DUNIA KU DUNIA SAGARA

MY LIVE MY LOVE AND MY SOUL

October 30th, 2011

Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers

Thousand Years

Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers

My Precious Gift

Lilypie - Personal pictureLilypie Pregnancy tickers
Showing posts with label experience. Show all posts
Showing posts with label experience. Show all posts

Friday, July 27, 2012

Jika Aku Menjadi "Trip in Ile Ape Village, Lembata NTT"

Gunung Ile Ape, disanalah letak Desa Ile Ape
next trip adalah ILe Ape.. Ile ape adalah gunung merapi. desa ini terletak di kaki gunung merapi tepat dibawahnya. Oke, kondisinya sama seperti dua desa sebelumnya masih sulit air, listrik PLTD dari jam 6 sampe jam 9 tapi sinyal masih bisa dijangkau disini. Kultur ataupun lingkungan disini lebih keras, lebih cuek dan tidak perduli, mungkin hal ini disebabkan panas dan berdebunya lingkungan desa Ile Ape. 



Koreksi Kuisioner di tengah kegelapan desa Ile Ape
Desa Ile Ape merupakan desa dengan pemeluk agama Islam dan Kristen Katolik. Seperti biasa penduduk muslim disini hanya 10% dari total keseluruhan penduduk disini. Didesa ini pula alhamdulillah gue menemukan yang namany masjid. meskipun suara adzan terdengar hanya saat adzan isya atau magrib saja *karena listrik tidak ada di siang hari* 

semakin malam semakin gelap, semakin fokus koreksi kuisioner

Pertama x datang, penyambutan tim kami agak aneh. tapi untungnya semua baik2 aja sih. kita diminta nginep di rumah penduduk muslim. tempat tidur alhamdulillah lebih baik dari tempat tidur di desa Lamadale. untuk air, mereka juga pake air sumur dan air sumur itu mengandung belerang -kata om ardi klo terlalu sering minum air putih yang mengandung belerang akan menyebabkan gigi menjadi hitam, so kita beli aqua untuk persediaan selama tinggal di rumah penduduk-, untuk makanan seperti biasa ada ikan dan sambel khas lembata. 

Ada kejadian lucu soal makanan di Ile Ape ini, pertama x datang om ardi mengatakan pada tuan rumah : "Ina, ibu mereka bertiga ini tidak susah makan, sediakan saja indomie, mereka amat sangat suka". Oke, terimakasih om, karena sudah berhari2 kami hanya makan ikan, sayur dan sambel saja. kami kangen masakan normal, indomie??? iya kami jugaa kangeeen... 

Malemnya, saat makan malam. sehabis shalat di masjid. wow kami disuguhi mie s*d*p.. hmmm udah lama bgt gak makan mie, kami makan dengan lahap termasuk gue, sampe nambah makannya. mungkin Ina (ibu pemilik rumah) senang melihat tamunya makan dengan lahap. pagi2nya kami sarapan roti buatan Ina, dan siangnya kami disuguhi mie lagi.. malemnya kami disuguhi mie lagi... esok hari, kami sarapan ubi, dan siangnya kami makan ikan?? loh kok ikan? mie nya alhamdulillah gak disuguhi mie.... hampir tiap makan nasi pasti kami disuguhi mie... dan kali ini gak... terimakasih Ina kami sudah kenyang dan blenger makan mie setiap saat.  sedang enak2nya makan dan hampir abis, tiba2 Ina dateng terburu2 sambil bawa mangkok dan bilang "ibu maaf mie nya lupa disuguhin". hahahhaha dan ternyata tuh mie muncul jg... akhirnya kami makan mie lagi  sampai saat kita mau pulang, terimakasih Ina hahha Ini cerita ku apa cerita indomie mu? hahaha

untuk teknis wawancara, gak jauh beda sama desa2 yang lain. hanya saja disini kita lebih dicuekkin. kita yang tadinya di desa sebelumnya serasa seleb eh disini serasa sales. haha... setiap kita lewat, dicuekkin mau wawancara juga dicuekkin, yang diwawancara juga sepertinya agak kurang tulus tapi yaudahlah yang penting kerjaan beres. 



Desa Ile Ape, gak banyak jg yang bisa gue ceritain dari desa ini, bahkan foto pun hanya ada satu. hehe. *karena bingung gak tau mst foto dimana* selain itu lngkungan yang cuek juga membuat gue dan teman2 agak kurang nyaman tinggal disana...


selanjutnya perjalanan akan berlanjut ke desa lusiduwawutun, kata om ardi perjalanan kesana memakan waktu 4 jam, desa ini diluar wilayah p**n... tapi katanya pemandangannya sangat indah karena dipinngir pantai selatan. so, kita lihat pengalaman apa yg bisa gue dapet di desa Lusiduwawutun :) 


Bekasi, 27 July 2012
In My Room
10.10 PM
#CatatanPerjalananLesti  yang tertunda
Lesti Primandari Putri

Jika Aku Menjadi "Trip in Lamadale Village, Lembata NTT"

Perjalanan gue selanjutnya adalah menuju desa Lamadale... sebelum berangkat ke desa Lamadale kami dijemput oleh bapak sekdes. perjalanan ke desa lamadale makan waktu satu jam lebih. Desa Lamadale terletak diatas gunung, untuk mencapai ke desa tersebut tidaklah mudah, untung om Ardi adalah supir yang handal. jadi sudah terbiasa menuju ke daerah yang terjal, curam dan jalanan hancur.

Sesampainya disana kami bener2 takjub, penduduk desa Lamadela hanya sedikit tidak kurang dari 100 orang. tidak ada sinyal *pastinya*, mata air jauh dan sulit menuju kesana *jadi mereka menggunakan PAH (penampungan air hujan), sedangkan listrik berasal dari PLTD hanya nyala dari jam 6 sore - jam10 malam. 

Rumah Pak Sekdes
Oke, sudah bisa diduga bagaimana pengalaman kami nanti selama 3 hari 2 malam di sini. ya mudah2an betah, gak ada hal2 aneh dan lancar semua. Kami akhirnya menginap di rumah bapak Sekdes. kondisi rumah cukup memprihatinkan, lantai masih tanah. dan banyak nyamuk, ayam dan anjing masuk rumah. Bapak sekdes pun mengatakan disini banyak malaria. *yaiyalah, sekeliling hutan gmn gak banyak nyamuk* kwatir jg sih sebenarnya...tapi bismillah aja deh...
Dan satu hal lagi, depan rumah pak sekdes itu hamparan lapangan yang luas. gak ada rumah penduduk dan ada pemakaman... 

Ini tempat tidur tempat kami bermalam :)
gue sama SPV  

Selanjutnya malam pertama kami di rumah bapak sekdes, kami rapat dahulu dengan para aparat desa. kesan pertama amat sangat berbeda dengan penduduk desa Lerahinga. rasanya jd kangen Lerahinga. Setelah rapat yang berlangsung selama 1 jam lebih, kami harus segera tidur karena lampu akan dipadamkan jam 9 atau jam 10. dan ini lah kondisi kami tidur : satu dipan kecil diisi oleh kami bertiga. dipan tanpa kasur. 

Malam pertama menginap di Lamadale merupakan pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan, disaat semua sudah tertidur lelap. tiba2 suhu badan gue menurun, gue mengigil kedinginan. pas mata gue terjaga semua gelap gulita. diluar hujan badai. gue bingung, gak tau kondisi sekeliling seperti apa? gue hanya takut ini rumah terbang secara hujan badai dan rumah ini hanya bertembokan kayu. 

kondisi rumah penduduk desa Lamadale
gue langsung cari tangan temen gue, bangunin temen gue krn suhu badan gue udah mengigil bgt. untung spv gue cepet tanggap, gue langsung disuruh ambil jaket ditengah kegelapan pake lampu hp. dari lampu hp gue liat sekeliling. ternyata semua baik2 aja. dan gue bisa bernapas lega dan tidur lagi. jujur malam pertama ini gue terama sangat kangen dengan kamar tempat gue menginap di Lerahinga, rasanya gue pengen kembali lagi ke Lerahinga. dan gak mau berlama2 di Lamadale.


Paginya, kami masih bs mandi dari air PAH dan selanjutnya kami siap2 wawancara. karena jarak dekat. dalam 1 hari kami bisa wawancara 15 penduduk. namun esok paginya kami terpaksa gak mandi karena air PAH sudah mau habis. jadi kami harus berjalan ke mata air yang jaraknya sekitar 2 km. 


Untuk teknis wawancara kami tidak ada kendala, dan untungnya kami dimudahkan, karena sebenarnya kami mungkin tidak akan kuat berlama2 disini karena sepertinya penduduk di Lamadale ada yg tidak jujur. jadi itu yang bikin kami tidak betah di Lamadale. Kondisi lingkungan Lamdale saat kami wawancara yaitu angin kencang. hampir seperti badai dan katanya ada beberapa atap rumah yang ikut terbang bersama angin. 


Untuk makan, sehari2 kami makan ikan, sayur2an, sambal khas Lembata dan ubi2an. tapi spertinya sambal khas buatan mama di lerahinga lebih enak bila dibandingkan dengan Ina (panggilan untuk Ibu) di lamadale hehe... tapi yah begitulah namanya tinggal di desa, ya menyatu dengan alam. 


Malam kedua kami menginap, kami sepertinya sudah terbiasa dengan tidak adanya air, listrik dan sinyal. Rasa takut gue terhadap anjing, juga udah mulai ilang, mulai biasa liat anjing mengendus2 sampai menjilat celana kita :( SPV gue pun mau gak mau mulai terbiasa dengan makan ikan. 


sehabis FGD bersama Om Tian, Om Ardi,
bapa dan mama desa Lamadal




kenangan yang gak mengenakan di Lamadale adalah saat kami harus FGD bapak2 dan ibu2, tidak ada konsumsi. padahal hari pertama kami dateng, kami sudah memberikan uang konsumsi kpd salah satu aparat desa. ternyata beliau lupa menyediakan konsumsi sehingga mau gak mau konsumsi tersedia dengan terburu2 dan seadanya.


namun ada kenangan menarik di lamadale, yaitu ketika kami tinggal di rumah pak Sekdes, anak Pak sekdes yaitu nona kecil anak pak sekdes sempat kebingungan melihat kami. mulai dari saat kami shalat sampai saat kami mandi di mata air, yaitu saat menggosok gigi dan keramas. *nona kecil itu ternyata jarang sikat gigi dan keramas* kasian. lalu dengan sigap SPV gue memandikannya dan mencuci rambutnya pake shampo. yah agak lebih bersih dibanding sebelumnya. :D




nona kecil anak pak sekdes
Gak banyak yang bisa gw ceritain di Lamadale, karena memang kami jarang berinteraksi dengan warga dan aparatnya. menurut gue tetap masih menarik kenangan di Lerahinga bila dibandingkan di Lamadale... penduduk yang ramah, tulus dan suasana yang menyenangkan di Lerahinga takkan gue lupa deh... meskipun sepertinya foto2 di Lamadale terlihat kami sangat akrab dengan penduduknya. tp so far mereka juga ramah dan baik hati kok. hanya beda lingkungan saja. namun Lamadale tak kan terlupakan juga karena si nona kecil yang menangis merajuk ingin ikut kami pulang hehe :D


bersama ina2 desa Lamadale
usai makan siang

 Bekasi, 27 July 2012
In My Office
3.40 PM
#CatatanPerjalananLesti  yang tertunda
Lesti Primandari Putri

Saturday, July 14, 2012

Jika Aku Menjadi "Trip In Lerahinga Village Lembata NTT"

Pertama sampai di Lewoleba, gue amat sangat takjub dengan bandara sederhana tapi pemandangannya amat sangat luar biasa... kereeeenn!!!!! benar2 celingak celinguk liat pemandangan keren itu.. tp gak lama karena gue sama lina diusir sama petugasnya. katanya pesawatnya mau berangkat lagi ke Kupang. wah, pak pilot ganteng nyetir pesawat apa angkot ya? hehe. Ternyata gue sama Lina udah djemput Om Ardi dan Om Tian.. untuk dianter ke hotel Palm di Lewoleba.

Yak sampai hotel gue takjub karena tuh hotel bagus tapi gak di tengah kota. dan mereka gak menyediakan makanan meskiun nyediain list makanan. so, kesulitan lagi deh cari makan apalagi di NTT mayoritas non muslim *maaf* jadi mau gak mau gue dan teman2 mesti hati2 cari makan.

Besoknya gue dan tim dijemput om tian dan om ardi menuju desa pertama. Desa Lerahinga... Perjalanan cukup memakan waktu kira2 satu jam lebih dari Lewoleba. Awalnya kita semua mampir ke kecamatan Lebatukan  Kabupaten Lembata NTT, setelah izin pak Camat kita lanjut ke Lerahinga (desa berstatus ODF).

Masjid di desa Dekisare
Sesampainya di Lerahinga *di balai desa*  kita disambut oleh aparat desa. yak *maaf* mukanya agak serem, obrolan sangat kaku dan ketika om tian bilang klo tim akan menginap salah satu aparat desa menyatakan "tiga orang ibu2 ini dipisah saja tinggalnya" jleb! kaget banget, benar2 takut diapa2in. tp harus ttp optimis dan berbaik sangka. setelah obrolan panjang lebar akhirnya kami sepakat untuk menginap di rumah bapa desa. sebelum kesana kami akhirnya mampir ke Desa Dekisare... 

Desa Dekisare adalah desa heterogen dimana penduduknya ada yang muslim dan non muslim, disana juga terbangun mesjid.. luar biasa! mereka saling meghargai karena selam di NTT dan Kupang akhirnya hari ini gue bs denger suara pengajian dan adzan.. kebetulan saat itu akan dilaksanakan shalat jumat... selain berdirinya mesjid, di desa ini juga memiliki pantai yang sangat indaaaah... ah ingin kesana lagi deh... 

Dan inilah pemandangan di desa Dekisare yang menurut gue... keren banget dan bikin gue pengen kesana lagi.. 
Tepi Pantai di Desa Dekisare
Sisi kiri pantai di Desa Dekisare

sisi lain di Pantai Desa Dekisare
Dan inilah pemandangan indah pantai di Desa Dekisare
  
Mari bermain air hihi...

selain itu Desa Dekisare rencananya akan dijadikan tempat wisata namun masih ada yag harus disiapkan dan diperbaiki. Karena akan dijadikan tempat wisata, di pinggir pantai desa Dekisare terdapat ibu2 penjaja makanan makanan sederhana, hasil pancingan mereka langsun dari laut. dan harganya sangat muraaah.. wah liburan amat menyenangkan sekali kalo kesini...








Ketupat, ikan laut dan sambal khas desa Dekisare
Ini nih mama penjaja makanan di tepi pantai Desa Dekisare
Selesai dari jalan2 di Desa Dekisare, eh observasi yah haha.. akhirnya kita semua kembali ke Lerahinga, rumah bapa desa. Di Lerahinga gue sm Lina menginap di rumah bapa desa, sedangkan spv gue menginap dirumah sekdes. Malam pertama agak bingung, meskipun ternyata penerimaanya sangat baik tapi gue dan teman2 haru beradaptasi dengan karakter, makanan dan gaya hiup mereka serta yang terpenting adalah harus terbiasa tidak ada air, listrik, dan sinyal pastinya. Disinilah petualangan dimulai...



Gapura Deklarasi STBM Desa Lerahinga


Gapura Desa Lerahinga - cerminan kebiasaan warga Lerahinga
(gambar kiri - bapa mengambil buah lontar untuk dijadikan arak
gambar kanan mama membuat jagung titi)
bapa desa dan mama desa
3 hari 2 malam kami menginap disini, banyak banget pengalaman berharga, kenangan yang gak mungkin gue lupakan desa Lerahinga...yah, benar kata orang kesan pertama begitu menggoda selanjutnya gue bener2 jatuh cinta sama desa dan penduduknya yang begitu ramah.

untuk wawancara tidak ada yang berbeda. waktu wawancara terkadang malah lebih cepat bila dibandingkan dengan waktu di sumedang, namun untuk probing agak kesulitan. karena kebanyakan dari warga desa tidak memiliki penghasilan hasil panen digunakan untuk makan sehari-hari. begitu juga dengan hasil tangkap ikan di laut, jika menangkap lebih akan dijual ke pasar saat hari pasar yaitu hari sabtu , namun umumnya hasil ikan tangkapan digunakan untuk dimakan sehari2. Sama seperti di sumedang warga desa Lerahinga sangat menghargai arti uang. namun bedanya medan wilayah desa ini lebih berat. 

hasil tangkapan ngelaut para warga desa Lerahinga
Warga desa ini jg memiliki prinsip harga diri yang tinggi dan pantang untuk dikasihani oleh orang lain. mereka juga memliki rasa kepedulian dan rasa saling menghargai yang tinggi, gotong royong atau "gemohing" juga ada di desa ini. 

saat FGD khusus bapak-bapak
Untuk adaptasi, ternyata keluarga bapa desa menerima kami dengan amat sangat baik, warga pun sangat baik. istilah bapa desa kepada kami "jika ibu mereka bertiga (red-gue dan tim) ke desa ini maka pantai adalah objek wisata kalian, maka ibu mereka adalah objek wisata kami" its mean kita seleb disini.. yaaa, karena mereka menyambut kami dengan amat sangat baik, mereka memperkenalkan kami di depan seluruh warga setelah mereka ibadah di depan gereja. 
mereka pun selalu menyapa kami jika kami berjalan atau observasi di desa. "selamat pagi nona" atau "selamat" . gue harus benar2 adaptasi sama yang namanya 'anjing', disana anjing seperti kucing disini berkeliaran dan dipelihara. anjing2 itu suka mengendus2 dan menjilat saat wawancara, :( dan gue yang phobia anjing harus bersikap wajar saat tuh anjing2 mulai melancarkan aksi mereka, untungnya warga mengerti dan mengusir anjing2 itu.

saat FGD khusus Ibu-ibu
yah itulah mereka, meskipun gue dan tim berbeda namun mereka benar2 tolerasi kepada kami. ada satu hal yang membuat gue terharu adalah ketika akan makan ayam, 
mama desa (istri bapa desa) menanyakan apakah "nona bisa potong ayam?"
gue kaget, mama melanjutkan "jika kami yang potong, pasti kalian tidak akan makan"
gue pun menjawab "tidak bisa, terimakasih mama tp tidak usah repot kita makan yang ada saja"
mama desa " baiklah saya akan suruh desa sebelah, yang muslim untuk potong ayam"
dan malamnya kita makan ayam kecap setelah mama desa bilang "kami potong ayam untuk ibu mereka di desa sebelah"
dan gue salut sama mereka, benar2 menghargai gue dan temen2.

salah satu keluarga yang menjadi responden
suasana di depan gereja saat pulang ibadah
dan mengenalkan kami sebagai tim peneliti
Untuk soal makanan, hemmm... makanan disini seperti biasa.. ikan, daun2an dan sambal super pedasnya.. tapi nasinya pake beras merah dicampur beras putih. 
mama sedang buat jagung titi
oh ya, lupa makanan khas disini adalah jagung titi (biji jagung dimasak satuan dalam kuali tanpa garam dan minyak, lalu diambil pake tangan, kemudian di taro diatas batu dan digpruk pake batu. dan jadilah jagung titi --> rasanya mirip cornflake cuma gak gurih aja), minuman yang khas adalah air nira (air kelapa) namun air ini memabukkan karena sudah dicampur akar2an --> yang ini gak coba, lalu ada lagi makanan yang namanya belawan (ikan mentah ditumbuk halus, dicampur kemangi dan air cuka yang banyak --> not reccomended untuk yang punya maag krn gue sakit perut abis makan ini, soal rasa yaa aseeeem banget karena air cukannya dijadiin kuah, kaya kuah sop gt deh).

pisang goreng, jagung titi dan sambal dadak extra pedas
jadwal makan di desa ini sehari bisa 5x makan, yah mungkin karena medan area desa berat dan mata pencaharian mereka petani atau ambil daun2an di hutan jadi butuh tenaga banyak. 
Setiap sarapan kami makan jagung titi, ubi pisang goreng dan kopi susu. oh ya, ada makanan yang menurut gue enak yaitu ubi hutan dan kacang hutan. kita semua sempet makan pas lagi rapat adat. rasanyaaa enak beda sama kacang dan ubi biasanya. cuman buat ngambil ubi dan kacang di hutan ini tidak bisa sembarang orang -__-'

hari terakhir dan malam perpisahan adalah malam yang tidak bisa gue lupakan, dimana semua aparat desa kumpul di rumah bapa desa, kita makan malam bersama, bercerita dan bersenda gurau. bahkan Pak Te sesepuh didesa itu datang, dan menceritakan banyak cerita lucu. dia juga membca puisi yag menurut gue sangat aneh tapi yah akhirnya lucu... kata2 pak Te yang paling gue inget adalah "Lerahinga bersatu, Lerahinga kecil tp pedas. jalannya lurus tidak bengkok-bengkok" Pak Te membawakan dengan gaya dan tawanya yang khas.. yang bikin suasana malam itu benar2 cair dan rasanya tidak mau pulang hehehe... 

melihat matahari pagi di Lerahinga
Lerahinga di pagi hari
Ya, benar Lerahinga kecil tapi pedas, Lerahinga memang desa kecil namun sangat berati.  Banyak kenangan yang gak mungkin bisa gue tuliskan semuanya disini. tapi hanya bisa gue simpan dalam hati :) Ya, Lerahinga memang tempat persinggahan terbaik. sesuai arti nama Lerahinga yaitu tempat persinggahan matahari. 

Lerahinga desa persinggahan matahari
aktivitas warga pulang menangkap ikan di pagi hari
Note: Seperti kata mama desa : "Lerahinga memang yang pertama dan mungkin akan terlihat baik namun selanjutnya ibu mereka akan bertemu dengan orang2 yang lebih baik dari kami dan mungkin suatu saat akan melupakan kami?"


berpose bersama mama, bapa, nona dan noe di depan gapura STBM Lerahinga..
kenangan yang tak mungkin akan terlupakan...

benarkah seperti itu mama? ohh... bagi gue, Lerahinga memang tempat persinggahan terbaik meskipun hanya sebentar tp paling berkesan dan tidak akan terlupakan. jadi tidak sabar buat menulis tentang 3 desa selanjutnya. :)








Bekasi, 14 July 2012.
In My Room
11.40 PM
#CatatanPerjalananLesti  yang tertunda
Lesti Primandari Putri












Jika Aku Menjadi "Versi Trip in Lembata NTT"


Kali ini perjalanan gue berlanjut ke sebuah pulau diseberang pulau Jawa. Pulau kecil yang indah, dikelilingi gunung dan laut. gue sih biasa liat itu di peta atau tivi hehe... Pulau itu bukan pulau dewata tp Nusa Tenggara Timur... Berawal dari Cita-cita pengen ke Bali kesampean karena sebelum menginjakkan kaki ke NTT, pesawat gue harus transit di Bali dulu. nah transit nya hanya 30 menit jadi ya selama 20 menit gue cm jalan2 di airport trus ke kamar mandi.. yang penting judulnya gue ke Bali hahaha.
30 menit transit di Bali - Ngurah Rai Airport

Gue berangkat dari bandara Soekarno hatta jam 7.30 - 16 Juni 2012- menuju Kupang, (memang gak ada armada pesawat yang langung dari jakarta menuju NTT, jadi harus naik pesawat kecil). gue berangkat sama Lina dan seperti biasa tmn gw yang mandiri minta janjian ketemu di bandara. eh ternyata susah ya ketemu dia. setelah setengah jam nyari dia akhirnya ketemu juga.

Transit di Ngurah Rai
Pesawat sampai Bali jam 11an transit bentar lanjut lagi ke kupang, gue sampe kupang sekitar jam 12 siang. Spv gue yang sudah sampai lebih dahulu di NTT sms, lebih baik gue sama Lina nginep di Hotel Brenton. Dari bandara Eltari kita naik taxi ke Hotel Brenton, cm 15 menit kesana dan bayarnya cm 60.000. Rate hotel juga murah cm 150.000 semalam fasilitas sih dua tempat tidur dan kipas angin aja. Niat jalan2 di Kupang batal karena teman gw sakit dia gak biasa kena ac lama2 jadi yah gw terpaksa ikut istirahat di hotel sampai besok....  Malemnya gw sama Lina agak kesulitan cari makan, akhirnya gue makan mie ayam nah yang punya itu orang jawa dan muslim. Tp temen gue sama sekali gak makan, dia gak biasa makan sehari 3x, biasanya dia makan 1 hari sekali. dia komen karena aku makan teratur dll, haah peduli deh yang penting jaga kesehatan dulu deh, karena gak tau lusa makan apa di Lembata. 

Oh ya, Lembata itu adalah nama salah satu kabupaten di NTT, Lembata terkenal dengan ikan pausnya.. Om Tian orang Plan Lembata selalu cerita kalau di Lembata itu pantainya indah sekali... hmm Lembata baru pertama kali dengar, di peta pun gak ada tuh daerah Lembata... tapi setelah kesana... hmmm.... yah ternyata benar2 pengalaman yang tak terlupakan :)

Pagi hari, sekitar jam6 gw berangkat menuju bandara Eltari, gue naik pesawat Susi Air menuju bandara Wunopito NTT.. yaps, pengalaman pertama naik pesawat kecil, isi pesawat hanya mampu membawa 14 orang termasuk 2 pilot dan 12  penumpang. Perjalanan menuju Lembata ini di komandai oleh pilot rusia, satu wanita dan satu pria.. sedangkan penumpangnya hanya 4 orang yaitu gw, lina, biarawati dan pastur. jujur gw deg2an pas naik pesawat ini, karena sebelum naik diterangkan cara penyelamatan diri di atas air. dan tuh pesawat mirip travel yang biasa gue naikin klo ke bandung... tp satu kata2 biarawati yang gue inget adalah "tenang aja nona, pilotnya handal. kita akan baik2 aja, saya sering pergi bersama dia nona" fiuhhh sedikit lega dengar tuh pernyataan biarawati...
nih pilot Susi Air yang ganteng si Mr. Mustafa.
Bandara Wunopito NTT

Oke, saat diatas pesawat gue gak bisa ambil gambar pemandangan, yang kelas benar2 indah dan tak terlupakan.. kondisi pesawat sih fine2 aja ya tapi tuh pilot cewe dan cowo sempet2nya bercanda *pilot yang cowo ganteng jadi mungkin si cewe naksir x ya, kepo deh gue* dan si pilot cewe sempet makan gery chocholatos saat mengendarai pesawat haha.. itu bikin gue deg2an takut tiba2 nyebur ke laut... yang jelas pesawat ini terbang rendah dan setiap belok, benar2 kerasaa... seperti mau jatuh ke laut.. tapi yah Alhamdulillah gue sampe bandara di tpi laut yang indah yaitu bandara Wunopito Lewoleba NTT. 

Disinilah perjalanan dan pengalaman tak terlupakan akan segera dimulai :) 


14 Juli 2012
Jika aku Menjadi
Trip In Lembata
#CatatanPerjalananLesti yang tertunda
Lesti Primandari Putri



Friday, June 29, 2012

Jejak Petualang "Versi Trip In Sumedang"



Jadi ini pengalaman kali ke dua gue harus menjadi enumerator, kali ini  gue  dapat tugas bareng 4 temen enumerator dan 3 supervisor (field researcher). 2 teman enum ini freelance dan gak kerja di kantor  gue 

Tugasnya tentang studi STBM "Sanitasi Total Berbasis Masyarakat" atau CLTS "Community Led Total Sanitation" di 3 kabupaten di 3 provinsi yaitu Sumedang (Jawa Barat), Lembata (NTT) dan Muara Enim (SumSel). Di setiap kabupaten kita harus penelitian ke 4 desa dengan status ODF - Open Defecation Free (bebas buang air besar sembarangan), Non ODF, Slippage ODF (dari ODF kembali menjadi non ODF) dan desa ODF tanpa program STBM.


Nah, 3 supervisor ini jd koordinator di 3 kabupaten "E sebagai kord Sumedang, A sebagai kord Lembata dan S sebagai Kord M.Enim. Lalu  gue  beserta 4 teman  gue  bakal dibagi jadi 2 tim. Tim Sumedang ( gue  n Lina dibantu Hira dan Hetty ), Tim M.Enim (Hira dan Hetty) dan Tim Lembata ( gue dan Lina ). 

bersama Hira, perjalanan menuju Desa Sukawening.
okey waktu itu awal mei,  gue  dan Hira berangkat ke sumedang naik bus, sampai di cileunyi kita berdua ketemu Lina dan Hetty. Lalu lanjut ke sumedang dan mencari hotel untuk menginap. Hotelnya sih biasa dan  gue  lupa namanya, yang pasti harga 150an buat berempat klo gak salah hehe. Malemnya kita meeting sama spv buat rencana besok, hmm agak deg2n deh soalnya spv khusus Sumedang ini jutek dan serius banget.



Esok harinya,  di desa pertama - desa sukawening Kec. Ganeas. ternyata langsung turun lapang setelah ketemu sama sanitarian... wuiiiiih pengalaman banget ya, wawancara rumah tangga (warga) secara langsung.. harus probing (menggali informasi sedalam mungkin) dan tdk boleh leading (mengarahkan responden agar menjawab yg kita mau). so far temen2 enum baik, cm ada beberapa yang gak mau berbagi pengalaman dengan  gue , jd hanya mau unggul sendiri. gpp sih namanya jg kerja yah. 

Bersama teman-teman Enum dan kader
di Desa Sukawening, Kecamatan Ganeas.
sore saat pengecekan kuisioner, adalah masa2 gak enak.  gue  yg masih nubie, banyak salah dan byk kekurangan dalam pengisian kuisioner. plus si spv kord "E" sumedang juteeek bgt. ngasih tau kesalahan tp gak mengajarkan atau gak kasih solusi biar gak salah lagi. suasana jadi bener2 gak enak. untung ada si A, dia bisa ngejelasin letak salah  gue  dan teman2 dimana dan kasih solusi so hasilnya mank besok kuisioner kita lebih baik dari hari pertama. 

ini rumah ibu kader
tempat gue dan enum menginap
Malamnya kami menginap di rumah penduduk, di rumah ibu kader. *duh lupa namanya cm inget muka aja dan bentuk rumahnya. yang pasti masakan ibu kader ini enak banget.. sambel dan lalapannya jg mantap banget deh. Sebelum tidur, gue dan Hira ngebahas kuisioner dan cara wawancara yang baik. berharap besok semuanya berjalan lancar.

Hari kedua di Desa Sukawening rutinitasnya sama yaitu masih wawancara. kali ini lebih santai dan gak nervous lg. selain itu jg sudah dapat arahan dari A biar kuisioner lebih rapih dan cara probing yang baik. Dan memang benar setelah tau permasalahan dan tau solusinya. kuisioner gue dan enum lainnya udah mulai rapih dan baik.


berpose depan rumah ibu kader
sebelum pindah ke desa malaka 
Hari Ketiga adalah hari terakhir menginap di Sukawening, jam 8 pagi kita sudah siap2 berangkat ke desa kedua. Desa ke dua - desa Malaka adalah desa yang penduduknya masih BABS (Non ODF), suasana masih gak enak... makin gak enak... mana spv kor. M.Enim sakit. jadi A harus gantiin si S ke M.Enim... wooow otomatis spv yg jutek jd kord Lembata... *sabar sabar* 

Memasuki wilayah Kecamatan Situraja,
Desa Malaka










Temen2 enum yg lain Hira dan Hetty jg pulang ke bekasi, karena minggu mereka harus brgkt ke M.Enim. huhu kebayang gak enaknya suasana kerjaan  gue  nanti.. x_x 
so, Hira dan Hetty hanya wawancara 5 warga lalu pulang. dan gue ditinggal di sumedang bareng Lina dan spv gue yang jutek huhu....

Awalnya agak ragu dan gak nyaman setelah tim yg lain pergi namun tenyata Di desa Malaka ini banyak pengalaman seru... karena masih byk warga yang BABS, jadi ada beberapa responden yang gue wawancara kondisi rumahnya ya begitulah... misal karena tidak ada wc dan perilaku BABS masih mendarah daging dalam keluarga salah satu warga di desa ini, mereka sudah terbiasa BAB atau BAK di teras atau dalam rumah (kondisi rumah adalah rumah panggung yg sudah agak rusak) jadi rumahnya amat sangat pesing dan bau.  namun disatu sisi ada jg nenek dengan usia 70 tahun tinggal bersama suaminya. namun pola hidup mereka sudah baik yaitu sudah memiliki wc sendiri dan tidak BABS.

Ada beberapa kejadian lucu di Malaka, terutama saat orang P*** datang. Dia bersikap orang kota masuk desa, gayanya tengil banget... nanya ada taksi di desa atau gak? ada mall tidak di desa?blg klo di desa santai aja gak perlu pake sepatu, gaya nya jg sok kota bgt. karena kejadian ini akhirnya si E yg awalnya serius lama2 mulai terbuka, senang cerita.. dan ternyata orangnya lumayan menyenangkan. 

Di desa ODF ini masih banyak memiliki cerita lucu dimana ketika Pak Camat meresmikan kecamatan ini ODF (STOP BABS), disatu sisi pembangunan wc diatas kolam ikan "panciringan' tetap ada dan tetap digunakan. Pak Camat meminta warga untuk merubuhkan namun mereka tidak mau, katanya jika  wc tsb dirubuhkan maka ikan kami makan apa? alhasil, ketika dirubuhkan. keesokan harinya panciringan itu sudah didirikan lagi oleh warga dan bertambah jumlahnya jadi 2.

ini yang disebut "panciringan" wc diatas kolam
Di desa Malaka ini, gue sama Lina dan spv gue gak menginap di rumah penduduk. karena kondisi tidak memungkinkan. meskipun ibu kader menawarkan untuk menginap tapi lebih baik menginap di rumah saudara spv gue aja. Dua hari di desa Malaka sedikit banyak memberikan pengalaman dan melatih skill wawancara, yang tadinya gue wawancara bisa setengah jam sekarang hanya 20-25 menit aja. dan kemampuan probing pendapatan pun sudah lebih baik.

Desa ketiga adalah Desa Cikondang, Desa berstatus Slippage. Kita dari kecamatan Situraja kembali lagi ke Kec. Ganeas. Disini gue sm Lina menginap 2 hari dirumah penduduk. kali ini menginap di rumah bapak juru ketik di kecamatan. so far, keluarga mereka sangat baik. masyarakat pun menerima kedatangan kami dengan baik.

Kalau untuk pengalaman wawancara sih gak ada bedanya sama dua desa sebelumnya, hanya saja disini ada warga yang begitu exited dengan kedatangan kita yaitu Ibu Nani, orangnya ceria sekali, kalau dia berbicara jarak radius 5 meter aja masih terdengar haha... ketika pertama bertemu dia heboh sekali seakan2 kita tamu agung x_x dan saat diwawancara agak kesulitan memprobing pendapatan karena dia sudah agak cukup tua. :( Di desa Cikondang ini pas kita izin pulang... ibu2nya benar2 heboh. mereka membawakan makanan khas sumedang. seperti opak dll.. katanya sih buat oleh2.. yang jelas makanan ini bikin bawaan jd makin banyak.

Desa terakhir adalah desa Cikadu, status desa ini adalah Slippage. (di Sumedang kita gak dpt desa dengan status ODF tanpa CLTS/STBM). Pengalaman disini gak jauh beda dengan sebelumnya. tapi medan disini agak berat. karena lokasi desa antara pegunungan... disini Lina menganggap gw lemah dan gak kuat jalan. jadi dia ambil alih untuk wawancara di medan yang berat. gue sih gak masalah secara kerjaan gw jadi lebih ringan ahaha (padahal spv gw minta gw wawancara di medan yg berat). 
Desa Cikadu diantara pegunungan
Di desa Cikadu ini, kita gak menginap karena spv gw harus melakukan FGD tingkat kabupaten. 

Yah sejauh ini banyak pelajaran yg gw ambil dari perjalanan gw selama di Sumedang...
1. dari mulai cara belajar wawancara, komunikasi dengan warga setempat, penyesuaian diri dengan warga setempat, penyesuaian dengan makanan mereka sampai cara bicara dan adat istiadat mereka.
2. penyesuaian dengan tim kerja dimana ada tiga karakter berbeda yang harus selalu berhubungan dan kerjasama dalam waktu dua minggu. dimana ketika kondisi lelah mengakibatkan sifat asli seseorang keluar dan mau gak mau kita harus menyesuaikan dengan mereka, karena kalo gak bisa2 timbul konflik. di satu sisi ada teman yang benar2 irit dan di satu sii ada tmn yg sgt loyal, mau gak mau gue harus menyesuaikan ke mereka berdua.
pemandangan di Desa Cikadu
3. cara berjuang hidup, menghargai yang namanya uang dan sikap kekeluargaan dari setia warga di desa yang gw datengin juga jadi pelajaran menarik. dimana hampir seluruh warga de yang gue datengin bermtapencaharian sebagai buruh tani. penghasian merka hanya 15.000 - 20.000 tidak setiap hari, seminggu mungkin hanya tiga kali mereka kerja. mereka benar2 berjuang hidup dengan apa yang ada di alam, mereka juga tidak malu untuk menari pekerjaan lain. disini dapat dilihat Allah mank sudah menakdirkan garis hidup setiap manusia dan setiap rejeki pun udah Allah tentukan. gak akan tertukar. rejeki tidak hanya bernilai materi atau uang saja. tp juga bisa dilihat dari hasil kebun atau panen. Sifat kekeluargaan dan saling tolong menolong juga sangat erat disini, setiap warga dekat dengan tetangga dan terkadang peduli jika mereka kesusahan. Hal ini jarang banget ditemuin di komplek perumahan di kota.
4. dari sekian wawancara gue lakukan ada beberapa responden yang menyelipkan cerita dan masa-masa sulit mereka, bahkan mereka sampai nangis menceritakan kondisi keuangan mereka ataupun ditinggal suami. crita ttg janda-janda tua yang masih harus berjuang hidup sendiri. semua itu benar2 membekas dalam ingetan gue..
5. kalau dari sisi ilmu yang gue dapet, gue banyak belajar dari spv gue mulai dari pendekatan ke warga, aparat desa dan pemerintahan, FGD sampai pelaporan.
6. tapi ada yang menarik dari semua itu, dimana saat ada warga desa *gue gak bia nyebutin desa mana* yang belum memiliki WC dan masih BABS/non ODF, mereka semua beralasan karena tidak punya uang dan ujung2nya minta bantuan pemerintah untuk subsidi pembangunan wc disetiap rumah ataupun pembanguan MCK umum. Yang paling menarik SPV gw ditawarkan jika dia mau jadi BUpati, kampanye nya bisa dilakukan dengan pembangunan WC Umum agar itu uang kampanye gak terbuang sia2. Hal ini terlihat masyarakat hanya menganggap aparat desa dekat dengan warganya jika hanya kampanye, setelah terpilih mereka kurang peduli dengan warganya.. untung gue dan tim bukan orang pemerintahan ya, kalo gak kesentil banget tuh sama kata-kata dari warga itu.

Selebihnya... Gue bener2 bersyukur atas semua pengalaman ini, dan berharap sisi positif yang gue dapet dari perjalanan ini bisa gue terapkan di kemudian hari. misal cara berjuang hidup di masa-masa sulit. :)
Perjalanan ini belum berhenti sampai sini... selanjutnya gue mau ke Lembata Nua Tenggara Timur. Apa yang bakal gue dapet disana ya?????

Bekasi,   14 Juli 2012
Jejak Petualang di Sumedang
#CatatanPerjalananLesti yang tertunda
Lesti Primandari Putri